PESAN SINGKAT


“Saudariku, dengarlah dariku nasehat.. Sebagai tanda kasih sayang dan rahmat.. Untuk hati dan jiwamu sebagai obat.. Ingatlah kita di dunia hanya dengan waktu singkat.. Gunakan umurmu dalam hal yang bermanfaat.. Kepada Rabbul ‘Izzati engkau taat.. Hari demi hari berlalu bagaikan kilat.. Sebagai tanda dekatnya kiamat.. Bukan orang yang selamat adalah orang yang sehat.. Akan tetapi mereka yang dengan amal shalih berbuat.. Berbakti kepada orang tua adalah hal yang tepat.. Akan kasih sayangnya adalah hal yang harus kau ingat.. Semoga di surga tertinggi kita mendapat tempat..”

Pesan singkat SMS ini dikirimkan oleh seorang teman anak sulung saya, entah siapa namanya.. Sungguh, nasehat yang bagus. Singkat, padat tapi mengena di hati.. Saya terpana membacanya. Untaian katanya membuat jiwa tercekat. Betapa tidak. Nasehat itu mengingatkan kita tentang singkatnya sebuah perjalanan hidup. Sehat kadang-kadang bukan jaminan untuk terus bisa hidup. Apalagi merenungi usia. Hari demi hari berlalu bagaikan kilat.. Sebagai tanda dekatnya kiamat.. Aduhai.. Betapa cepatnya waktu berlalu. Sering saya mencoba untuk kembali ke masa silam. Masa di saat-saat belum punya kewajiban berat. Masa di kala semua masih ringan dijalani. Masa silam yang penuh dengan waktu luang. Tapi sepertinya ngga pernah bisa dan tak akan pernah bisa. Karena kita memang tidak punya mesin waktu yang bisa membawa kita kembali ke masa lalu.. Yang muncul ketika mengingat itu semua hanyalah perihnya penyesalan. Menyesal karena tidak pintar memanfaatkan waktu dengan bagus di kala itu. Menganggap hidup begitu mudah. Seperti sekedar menghirup udara dan menghembuskan kembali.. Layaknya bermain-main. Menyesal karena sampai sedewasa ini belum punya ilmu yang bisa dibanggakan. Belum pula punya amalan shalih yang istimewa..

Sahabat semilyar, bagi kalian yang masih berusia remaja barangkali saja belum bisa merasakan singkatnya masa berlalu. Belum bisa mengerti bagaimana seharusnya berbuat di masa muda. Belum memahami apa yang harus dicapai ketika belum mempunyai kesibukan dan kewajiban menunaikan tanggung jawab dalam keluarga dan berumah tangga. Sungguh, sekiranya kalian merasakan seperti yang saya rasakan saat ini pastilah tidak ada remaja yang menyia-nyiakan waktunya. Tidak akan ada remaja yang membuang saat-saat luangnya untuk hal-hal yang tidak berguna. Ingatlah kita di dunia hanya dengan waktu singkat.. Gunakan umurmu dalam hal yang bermanfaat..

Pantaslah kiranya jika Nabi kita yang mulia mengingatkan dengan pesan mulia dalam hal ini. Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: [1] Masa mudamu sebelum datang masa tuamu, [2] Masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, [3] Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, [4] Waktu luangmu sebelum datang masa sibukmu, [5] Saat hidupmu sebelum datang kematianmu.” (Hadits Riwayat Al Hakim dalam Al Mustadroknya, dikatakan oleh Adz Dzahabiy dalam At Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shogir)

Memanfaatkan masa muda, masa sehat, masa kaya, waktu luang, saat hidup.. Buat apa Rasulullaah ingatkan jika bukan buat beramal shalih..?! Buat apa Beliau nasehatkan bagi umatnya jika bukan untuk meniti jalan di atas ketaatan ketika itu semua masih kita miliki..?! 

Seringkali kita mengkhianati suara hati. Memilih berdusta. Padahal hati kita adalah sebentuk daging lembut, yang oleh Allah ditumbuhkan fitrah di sana. Fitrah adalah rasa cinta kepada kebaikan, rasa selalu sayang dengan kebenaran dan ketaatan. Fitrah ini selalu ada pada hati manusia sejahat apapun dirinya. Tentu saja, kecuali pada hati orang-orang yang memang Allah telah jauhkan dia dari kasih sayang-Nya.. Maka seringkali ketika kita berbuat kesalahan dengan sengaja, kita tahu bahwa ini adalah saat kita bermaksiyat kepada Allah. Kita paham benar ketika kita melalaikan kewajiban kita itu artinya kita sedang berjalan menuju lereng-lereng kebinasaan yang terjal. Lembah kehancuran yang bisa jadi setiap saat menjatuhkan kita dan terbentur-bentur cadasnya di setiap tebingnya.. Aduhai, hati kita terusik karenanya. Kita menjadi resah dan risau.

Sahabat, saat ini kita punya masa muda. Kelak ketika kita telah melintasinya, di ujung jalan masa muda itu baru akan tumbuh penyesalan. Maka sekaranglah saatnya berbuat. Mengisi masa muda dengan berbagai kesibukan yang bermanfaat. Belajar bahasa Arab, menghapal Al Quran, banyak membaca buku, membekali diri dengan ilmu pengetahuan yang berfaedah, dan seterusnya.. Atau kalian ingin seperti anak-anak jalanan di lampu merah..?! Wajah-wajah kelam yang tak terbias darinya cahaya ketaatan..?! Atau.. Seperti anak-anak yang selalu meluangkan waktunya untuk jalan-jalan, untuk makan-makan, sibuk dengan hape dan androidnya. Masyaallah.. Jangaaaaan yaaaaa.. Mungkin kalian lihat saat ini mereka bahagia. Tertawa tertiwi dengan teman-temannya tanpa rasa jengah dan kuatir akan masa depan mereka. Itu semua bukan kebahagiaan hakiki Sahabatku.. Sama sekali bukan. Lihat apa yang mereka tulis, apa yang mereka alami. Mereka adalah remaja-remaja galau yang tidak terbimbing dengan sinaran pelita syariat. Mereka jauh dari ilmu dan ketaatan. Hati mereka selalu gundah dirundung gelisah.. Mereka adalah anak-anak yang meyatimkan dirinya sendiri dari teduhnya bimbingan syariat. Kosong dari hangatnya dekapan Al Quran dan sunnah nabawiyah.

Kalian yang saat ini memiliki kesehatan, harta, waktu luang, dan masih juga bernafas, berbuatlah dengan itu semua. Kesehatan baru terasa berharga ketika kita sakit. Betapapun sedikitnya harta baru akan terasa sangat berharga saat kita jatuh miskin. Waktu luang baru terasa tak ternilai harganya saat kita dikejar dengan kesibukan dan sempitnya waktu kita.. Hanya kehidupan yang belum bisa kita sesali, karena kita memang belum pernah mati. Kiranya, kehidupan itu baru akan terasa sangat berharga, kelak ketika ruh hendak berhijrah. Saat hendak berpisahnya raga dengan nyawa.. Tahukah kalian, bahwa saat itulah seorang hamba berada pada titik nadir penyesalannya..?! Ah, mengapa ketika hidup kemarin tidak beramal. Mengapa ketika nafas masih berhembus kemarin tidak menuntut ilmu sebagai bekal hadapi dahsyatnya ujian menjelang ajal. Mengapa ketika jantung masih berdegup dahulu hanya sibuk dengan dunia dan bersenang-senang..?! Aduhai, kini hanya punya setumpukan rasa sesal. Sekiranya bisa sekejap saja kembali menghirup nafas di kehidupan dunia, niscaya aku akan sujud barang sekali untuk bertaubat kepada Allah, mengemis ampunan-Nya. Allah berfirman, "Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: "Ya Tuhanku kembalikanlah aku ke dunia. Agar aku bisa berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.." (Al Quran Surat Al Mu’minun : 99 – 100) 

Sahabat, ketemu kan benang merahnya..?! Jadilah insan yang selalu berjaya menaklukkan dirinya sendiri dalam meniti jalan hidup. Mudah-mudahan keistiqamahan senantiasa menyertai. Orang-orang berakal, kata Allah adalah orang yang mendengar perkataan yang paling baik dan mengikutinya. Inilah dia, penangkal seluruh malapetaka. Sebagaimana firman-Nya, "Orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya (yaitu ajaran-ajaran Al Quran), mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang berakal.." (Az-Zumar : 18)

Hanya kepada Allah kita memohon taufik. Salam hangat sehangat-hangatnya, mudah-mudahan kita selalu hidup dalam kemuliaan..

Blabak semilyar kenangan, 15 Dzulqa'dah 1434