SIBUKKAN LISAN DENGAN DZIKIR KEPADA ALLAH تعالى

SIBUKKAN LISAN DENGAN DZIKIR KEPADA ALLAH تعالى

Sebagian Fawaid dari Kitab Minhajul Haq oleh Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah yang disyarah oleh Syaikh Ali Hasan al-Halaby hafizhahullah

*Bait 49-51*

وَكُنْ ذَاكِرًا للهِ فِي كُلِّ حَالَةٍ
فَلَيْسَ لِذِكْرِ اللهِ وَقْتٌ مُقَيَّدُ

فَذِكْرُ إِلٰهِ الْعَرْشِ سِرًّا وَمُعْلَنًا
يُزِيلُ الشَّقَا وَالهَمَّ عَنْكَ وَيَطْرُدُ

وَيَجْلِبُ لِلْخَيْرَاتِ دُنْيًا وَآجِلًا
وَإِنْ يَأْتِكَ الْوَسْوَاسُ يَوْمًا يُشَـرِّدُ


Jadilah orang yang selalu berdzikir kepada Allah dalam setiap keadaan.

Bukanlah disebut dzikir kepada Allah yang hanya melakukannya pada waktu yang ditentukan saja

Dzikir kepada Allah yang Penguasa Al-‘Arsy secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan.

Menghilangkan kegelisahan dan kegundahan darimu
Mendatangkan berbagai kebaikan dunia dan akhirat.

Kalau engkau enggan berdzikir maka rasa was-was itu akan menimpamu suatu saat.
==============================

Doa itu adalah kebaikan yang paling baik di dunia
Was was  itu dari syaitan, apabila menimpa manusia maka was-was akan menyerang ketenangannya. Jika was-was itu menimpa maka harus berlindung kepada Allah dan juga berpaling dari hal tersebut, membaca al-Quran, dan segera menyibukkan dengan yang manfaat.

Syaikh Ali hafizhahullah menyebutkan beberapa dalil dari Al-Quran dan as-Sunnah yang  berkaitan dengan dzikir.

Allah Azza wa Jalla berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا ﴿٤١﴾ وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” [QS. al-Ahzab :41-42]

Allah Azza wa Jalla juga berfirman.

وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“… Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.“ [QS. al-Ahzab/33:35]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

سَبَقَ الْمُفَرِّدُوْنَ قَالُوْا: وَمَا الْمُفَرِّدُوْنَ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ: اَلذَّاكِرُوْنَ اللهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتُ

“al-Mufarridun telah mendahului.” Para sahabat berkata, “Siapa al-Mufarridun wahai Rasulullah?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kaum laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir kepada Allah.” (HR. Muslim (no. 2676).

Dari hadits di atas, terlihatlah makna al-mufarridun, yaitu orang yang terus-menerus berdzikir kepada Allah dan menyukainya. Orang yang banyak berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla dengan ikhlas karena Allah Azza wa Jalla , mengikuti contoh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hatinya ingat kepada Allah Azza wa Jalla dan batas-batas-Nya, maka dia termasuk orang yang bertakwa. 

Contoh teladan kita adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla dalam setiap keadaannya. Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata :

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ

Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengingat Allah dalam setiap keadaannya. (HR. Muslim no. 373, Abu Dawud no. 18, at-Tirmidzi no. 3384)

Salah seorang dari tujuh orang yang dinaungi Allah Azza wa Jalla dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya diantaranya ialah orang yang berdzikir kepada Allah di saat sendirian kemudian berlinanglah air matanya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

… وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ …

“… Dan seorang laki-laki yang berdzikir kepada Allah di saat sendirian kemudian berlinanglah air matanya …” (HR. al-Bukhari no. 660, Muslim no. 1031)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا، وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً "

Dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku berada dalam prasangka hamba-Ku, dan Aku selalu bersamanya jika ia mengingat-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku, dan jika ia mengingat-Ku dalam perkumpulan, maka Aku mengingatnya dalam perkumpulan yang lebih baik daripada mereka, jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekatkan diri kepadanya sehasta, dan jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sehasta, Aku mendekatkan diri kepadanya sedepa, jika ia mendatangi-Ku dalam keadaan berjalan, maka Aku mendatanginya dalam keadaan berlari." (HR. Al-Bukhori no. 7405)

*Lisan itu kalau disibukkan dengan dzikir kepada Allah maka makanan di mulut yang berupa ghibah dan namimah menjadi pahit tidak bisa ditelan karena kalah dengan kemanisan dzikir kepada Allah.*

*Dzikir banyak sekali fawaidnya, menyebabkan rasa takut kepada Allah dan ini adalah nikmat yang besar bagi orang yang mentauhidkan Allah.*

Semoga Allah menjadikan kita selalu dimudahkan untuk berdzikir kepada-Nya dan menyibukkan waktu kita dengan yang bermanfaat.

Di atas kereta Gajayana (yang seharusnya Bima) – ke Kota Yogjakarta, 26 Syawwal 1440 H/29-06-2019

Semoga bermanfaat,

📝 Ustadz Zaki Rakhmawan Abu Kayyisa

⛲Faidah dari Daurah Syar'iyyah fi Masail Al Aqdiyyah wal Manhajiyyah ke 20.

Gambar : Konsultasisyariah.com