MENANAM BULIR KETAATAN

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda, bahwa amalan seseorang itu tergantung pada niatnya dan mereka akan mendapatkan sesuai yang mereka niatkan di awalnya.
Melakukan ketaatan itu haruslah karena Allah. Bukan karena ingin pujian dari pasangan hidup yang diincarnya. Karena jika pasangan hidup incarannya yang dijadikan sandarannya untuk beramal shalih menjadikannya patah hati, ke
taatan dan amalan shalih itu tidak akan lagi hadir di hari-hari berikutnya.
Salah satu akhlak yang paling buruk adalah sikap yang ditunjukkan oleh orang yang patah hati. Mereka kurang berserah diri kepada Allah. Menghiba kepada manusia dan haus pujian fisik manusia. Mereka mengemis perhatian sesama dengan kelebihan lahiriahnya. Mereka bukannya tidak mengerti nasehat. Mereka menerimanya. Mereka tersentuh. Mereka terharu dengan nasehat-nasehat yang ada. Tapi mereka lalai mengamalkannya. Sehingga nasehat-nasehat itu berlalu begitu saja, tidak membekas dalam kehidupan sehari-harinya.
Allah mengisyaratkan, bahwa wanita yang baik akan mengincar laki-laki yang baik. Laki-laki yang baik pun akan mencari-cari wanita yang baik. Tidak ada wanita ataupun lelaki yang sempurna itu sudah pasti. Yang harus dilakukan justru perbaikan diri - semata karena Allah. Karena ingin mendapatkan ridha-Nya. Karena mengharap tatapan wajah-Nya di hari akherat. Sehingga menjadi bermaknalah semua amalannya. Menjadi bulir-bulir ganjaranlah semua ketaatannya. Kesemuanya akan dipetik pada masa panen raya yang ditunggu-tunggu di satu musim semi abadi yang paling indah di surga-Nya, setelah hari perhitungan.
Oleh karenanya sibukkan diri dengan kebaikan. Karena dosa-dosa yang sudah terkumpul selama ini sangatlah banyak. Harus dibayar dengan kerja keras. Dengan rajin shalat malam. Dengan rajin membaca quran. Dengan menambah hapalan yang sudah dirancang sejak lama dan terlupa-lupa untuk memulai menghapalnya. Dengan memperbaiki pakaian syar'inya - sehingga tak nampak lagi lekuk-lekuk tubuhnya meski sudah terbalut jilbabnya. Dengan mengurangi cekikikan dan ngakak-ngakaknya. Dengan meninggalkan pamer kecantikan wajahnya dengan selfi-selfi yang dipublishnya yang disangkanya akan menarik hati laki-laki.. Tidak, laki-laki yang berupaya shalih tidak tertarik. Juga dengan mengamalkan berbagai amalan sehari-hari yang selama ini dilalaikan dengan kesibukannya beronline. Online yang bersifat seneng-seneng aja tanpa bisa didulang faedahnya.
Semoga dengan upaya itu semua turunlah pertolongan Allah. Dan jika tidak, maka itulah hidup. Dengannya manusia diuji. Dan surga selalu dikelilingi dengan perihal-perihal yang tidak mengenakkan. Tapi nanti akan terbayar dengan kenikmatan abadi yang belum pernah tercecap oleh indra manusia ketika hidup di bumi.
Magelang semilyar kenangan, 12 Nopember 2017
Abu Ubaidillah Salman