Kapan Hukum Safar Berakhir, Apakah Saat Mulai Masuk Negerinya Atau Ketika Sudah Berada Di Tengah Keluarga?

بسم الله الرحمن الرحيم 
متى يزول حكم السفر هل بدخول البلد أو ببلوغ الأهل؟

Kapan Hukum Safar Berakhir, Apakah Saat Mulai Masuk Negerinya Atau Ketika Sudah Berada Di Tengah Keluarga?

السؤال:
Soal

متى يزول حكم السفر عن المسافر ؛ هل ببلوغ أول مدينته أم بوصوله إلى بيته ؟ و ثمرة السؤال هي : لو أن مسافرا رجع من سفر وبلغ أول مدينته في وقت المغرب لكنه لن يصل بيته إلا بعد خروج وقت المغرب ودخول وقت العشاء وذلك في المدن الكبيرة ؛ فهل عليه أن يقف ويصلي المغرب في وقته ؟ أم يجوز له أن يجمع بين الصلاتين بعد وصوله إلى بيته ؟

Kapan berakhirnya hukum safar bagi seorang musafir; Apakah saat dia mulai masuk ke negerinya atau ketika dia sudah tiba di tengah keluarganya? Dampak dari pertanyaan ini adalah; Seandainya seorang musafir kembali dari safarnya, lalu dia masuk ke negerinya pada waktu Maghrib, akan tetapi dia belum tiba di rumahnya kecuali setelah keluarnya waktu Maghrib dan telah masuk waktu Isya, ini di kota besar, apakah dia harus berhenti untuk melakukan shalat Maghrib pada waktunya? Ataukah dia boleh menjamak antara kedua shalat (Maghrib dan Isya) setelah tiba di rumahnya?

الجواب:

Jawab:
الحمد لله
 المسافر له الجمع والقصر ما دام ينطبق عليه اسم المسافر وهو الضارب في الأرض ولو قرب من بلده ما لم يدخلها ، فإن دخلها انقطع حكم السفر ولا يشترط بلوغه أهله ، كما أنه لا يعتبر مسافراً إلا إذا خرج من بلده .

Alhamdulillah

✏Seorang musafir dibolehkan menjamak dan mengqashar shalat selama dia masih disebut musafir. Yaitu berada di tengah perjalanan, walaupun telah dekat ke negerinya/kotanya, sebelum dia memasukinya. Jika dia telah memasukinya, maka selesailah hukum safar, tidak disyaratkan bahwa dia harus sampai di tengah keluarganya, sebagaimana seseorang tidak dianggap musafir kecuali dia keluar dari kotanya.

جاء في "الموسوعة الفقهية" (27/287) : " إذا دخل المسافر وطنه زال حكم السفر, وتغير فرضه بصيرورته مقيماً , وسواء دخل وطنه للإقامة , أو للاجتياز, أو لقضاء حاجة..

✏Disebutkan dalam Al-Mausuah Al-Fiqhiyyah (27/287), "Jika seorang musafir telah memasuki negerinya, maka hilanglah hukum safar, kewajibannya berubah dengan perubahannya menjadi seorang mukim (menetap), apakah dia masuk ke negerinya untuk menetap atau sekedar lewat atau hanya ingin memenuhi kebutuhannya.

ودخول الوطن الذي ينتهي به حكم السفر هو أن يعود إلى المكان الذي بدأ منه القصر, فإذا قرب من بلده فحضرت الصلاة فهو مسافر ما لم يدخل..." .

انتهى . وينظر أيضا : "الموسوعة الفقهية" (27/282) 
✏Masuknya dia ke negerinya yang dengan itu dianggap hukum safarnya berakhir adalah dengan kembalinya dia ke tempat dia memulai qashar darinya. Jika dia baru mendekat ke negerinya, lalu masuk waktu shalat, maka ketika itu dia masih di anggap musafir, selama belum masuk ke negerinya."
(Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyyah, 27/282)

سئل علماء "اللجنة الدائمة(6/449): " كنت مسافراً ونويت وأنا عائد من السفر أن أصلي الظهر والعصر جمع تأخير بالمنزل ، فهل يصح لي أن أقصر الصلاتين ؟ علما بأنني قد وصلت بعد العصر.

فأجابوا: إذا وصل المسافر إلى بلده ، فإنه لا يجوز له قصر الصلاة ؛ لانتهاء السفر بدخوله إلى بلده ، ولو كانت الصلاة قد وجبت عليه قبل وصوله ؛ لأن العبرة بحالة أداء الصلاة، لا بحالة وجوبها عليه في هذه الحالة " انتهى .

✏Al-Lajnah Ad-Daimah (6/449) ditanya, "Saya melaksanakan safar, ketika kembali dari safar saya sudah niat untuk shalat Zuhur dan Ashar dengan jamak ta'khir di rumah. Apakah saya boleh mengqashar  kedua shalat tersebut? Perlu diketahui bahwa saya telah tiba setelah masuk waktu Ashar.  Mereka menjawab, "Jika seorang musafir telah tiba di negerinya, maka dia tidak boleh mengqashar shalat, karena hukum safar baginya telah berakhir dengan masuknya dia ke negerinya walaupun shalat telah diwajibkan kepadanya sebelum dia tiba. Karena yang menjadi standar adalah saat dia menunaikan shalat, bukan saat datangnya kewajiban kepadanya ketika itu."

وعليه : فمن دخل بلده انقطع عنه حكم السفر ، ولزمه النزول لأداء الصلاة قبل خروج وقتها ، ، ولا يجوز له الجمع ، ولا تأخير الصلاة إلى أن يصل بيته ، إذا كان لا يصل منزله إلا بعد خروج وقتها .

Karena itu, siapa yang telah memasuki negerinya, terputuslah baginya hukum safar, dia harus turun untuk menunaikan shalat sebelum keluar waktunya, tidak boleh baginya menjamak shalatnya atau mengakhirkan shalatnya hingga tiba di rumahnya, jika dia perkirakan baru akan tiba di rumahnya setelah keluar waktunya."

والله أعلم

📚Referensi : http://islamqa.info/ar/175787
〰〰〰〰〰

🎁Fawaid :
🔮 Apabila seorang musafir sampai di kota tempat tinggal nya /kelahiran dimana sebelumnya ia menetap dan mukim disitu kemudian setelah berlalu tahun dia kembali ke tempat itu untuk kurun waktu tertentu maka dia sudah dihukumi sebagai orang yang mukim. 

🔮 Ketika dia berjalan dari UAE balik ke Indonesia -  Jakarta dan ingin melakukan perjalanan ke Magelang maka selama diperjalanan itu dia berstatus safar/musafir dan ketika balik ke magelang maka dia dihukumi mukim 

🔮Ini semua adalah bentuk keindahan Islam dan Kesempurnaan nya, semuanya mudah dan telah dijelaskan oleh Nabi Shallallahu’alaihi wassalam, tinggal kita berusaha untuk menggalinya dengan cara menimba ilmu syar’i. 

Semoga bermanfaat 
🍫 Ustadz Zaki Abu Kayyisa Hafidzahullah

gambar pixabay.com