BERSATU ITU DENGAN SEBAB KETAATAN KEPADA ALLAH, BERPISAH ITU KARENA DOSA

BERSATU ITU DENGAN SEBAB KETAATAN KEPADA ALLAH. BERPISAH ITU KARENA DOSA.
BERSATU ITU DENGAN SEBAB KETAATAN KEPADA ALLAH. BERPISAH ITU KARENA DOSA.

Fenomena dakwah di Indonesia yang kurang akur dan kurang bersaudara bahkan saling jegal menjegal satu dan lainnya bukan karena mereka dan kita tidak bisa bersatu namun terkadang kita masih “disibukkan” dengan dosa dan maksiat.

Bahkan fenomena ini berlaku umum seperti dalam berumah tangga,  persahabatan ataupun pertemanan.

 (نسأل الله السلامة والعافية  )

 kita minta keselamatan
 dan penjagaan kepada Allah - dari yang demikian. 

Mari simak paparan hadits berikut ini:

401 - حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سُلَيْمَانَ قَالَ: حَدَّثَنِي ابْنُ وَهْبٍ قَالَ: أَخْبَرَنِي عَمْرٌو، عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ، عَنْ سِنَانِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ أَنَسٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَا تَوَادَّ اثْنَانِ فِي اللَّهِ جَلَّ وَعَزَّ أَوْ فِي الْإِسْلَامِ، فَيُفَرِّقُ بَيْنَهُمَا إِلَّا بِذَنْبٍ يُحْدِثُهُ أَحَدُهُمَا» 

Imam al-Bukhori rahimahullah (wafat 256 H) menuliskan dalam  kitabnya al Adabul Mufrod, “Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sulaiman, dia (Yahya) telah menceritakan kepadaku Ibnu Wahb, dia (Ibnu Wahb) berkata, telah mengabariku ‘Amr dari Yazid bin Abi Habiib, dari Sinan bin Sa’d dari Anas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda : “Tidaklah ada dua orang yang saling mengasihi karena Allah ‘Azza wa jalla atau karena Islam lalu keduanya berpisah, melainkan disebabkan dosa yang dikerjakan salah seorang dari keduanya”. (HR. Al-Bukhori dalam al-Adabu al-Mufrod” no. 401, dikeluarkan pula oleh Imam Ahmad dalam Musnad Ahmad no. 20288  dan hadits tersebut di nilai sebagai hadits Shohih lighoirihi oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Silsilah Ahaadits as-Shohihah no. 637.

Berkata al-Munawi rahimahullah (wafat 1031 H) dalam “Faidhul Qadir Syarhul Jami’ ash-Shaghir” no. 7879 jilid 7/334 cet Daarul Hadits th 1431 H: 

(ما تواد) بالتشديد
“Lafazh مَا تَوَادَّ (maa tawaadda : tidaklah ada yang saling mengasihi) dibaca dengan tasydid, 

(اثنان في الله فيفرق بينهما إلا بذنب يحدث أحدهما) فيكون التفريق عقوبة لذلك الذنب

(antara dua orang karena Allah lalu saling berpisah antara keduanya, melainkan disebabkan dosa yang dikerjakan salah seorang dari keduanya), maka terjadinya perpisahan ini merupakan hukuman atas dosa tersebut. 

ولهذا قال موسى الكاظم: إذا تغير صاحبك عليك فاعلم أن ذلك من ذنب أحدثته فتب إلى الله من كل ذنب يستقيم لك وده

Oleh karenanya berkata Musa al-Kazhimi rahimahullah (wafat 183 H): “Jika telah berubah sikap sahabatmu kepadamu, maka ketahuilah bahwa hal itu disebabkan karena dosa yang telah engkau perbuat. Maka bertaubatlah dari segala dosa niscaya akan langgeng kasih sayang sahabatmu kepadamu”. 

وقال المزني: إذا وجدت من إخوانك جفاء فتب إلى الله فإنك أحدثت ذنبا وإذا وجدت منهم زيادة ود فذلك لطاعة أحدثتها فاشكر الله تعالى

Berkata pula al-Muzany (Ismail bin Yahya bin Ismail Abu Abu Ibrahim) rahimahullah (wafat 264 H) : 
“Jika engkau mendapati sikap keras/antipati dari saudara-saudaramu maka bertaubatlah kepada Allah, karena sesungguhnya engkau telah berbuat suatu dosa. Dan jika engkau mendapati dari mereka bertambah sikap kasih sayang kepadamu maka hal itu disebabkan amalan ketaatan yang engkau kerjakan, oleh karenanya bersyukurlah kepada Allah”.

Semoga Allah melimpahkan kepada kita anugerahnya agar kita senantiasa mendoakan diri kita dan orang lain dengan kebaikan sehingga mereka pun berkenan untuk bersatu dengan kita diatas al-Quran dan as-Sunnah menurut pemahaman ulama pendahulu kita yang sholih.

Semoga bermanfaat,
🍫 Ustadz Zaki Rakhmawan Abu Kayyisa hafizhahulloh