Ticker

6/recent/ticker-posts

HUKUMAN YANG ALLAH TETAPKAN ATAS DOSA

HUKUMAN YANG ALLAH TETAPKAN ATAS DOSA

Nasehat Syaikh Ziyad al-‘Abbad hafizhahullah
Syaikh hafizhahullah  menjelaskan tentang Kitab yang ditulis oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah.
Syaikh hafizhahullah menganjurkan untuk membaca kitab Ad-Daa’ wa Dawaa’, beliau membacakan kitab tersebut yang ditahqiq oleh Syaikh Ali Hasan al-Halaby hafizhahullah.

Terkadang hukuman berasal dari dosa, tapi muskilah itu bukanlah tentang dosa namun musibah yang lebih besar adalah yang terjadi pada para pelaku dosa yaitu tidak menganggap dosa sebagai kesalahan namun dianggap sebagai suatu kebiasaan.
Bagaimana menyikapi dosa, dan ini adalah musibah yang menimpa kebanyakan manusia yaitu mengganggap biasa dosa adalah terkadang bahkan sering menjadi bagian dari hidupnya. 

Syaikh Ziyad hafizhahullah menceritakan ada pemuda multazim (yang taat agama) diuji dengan dosa melihat perempuan dan lebih lanjut lagi melihat film yang jorok. Bahkan mengakibatnya diuji dengan dosa melihat internet (film-film porno).  Nabi ﷺ adalah seorang ma’sum (yang dijaga dari dosa) dan beliau pun masih beristighfar setiap hari lebih dari 70 kali

وعَنْ أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ :وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي اليَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhubeliau berkata: Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Demi Allah aku sungguh beristighfar dan bertaubat kepada Allah setiap harinya lebih dari tujuh puluh kali. [HR. Al-Bukhari no. 6307]

Anda bisa membayangkan bagi orang yang berbuat maksiat (bukan ma’sum maka harus berapa kali beristighfarnya). Bahkan sekarang telah marak HP, internet dan yang lainnya, ini merupakan musibah besar karena mudahnya orang sampai pada perbuatan haram seperti melakukan zina. 

Allah Ta’ala berfirman:
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (QS. Ali Imron : 135)

Jangan pernah putus asa untuk memperbanyak beristighfar dan bertaubat walaupun kembali lagi melakukan kemaksiatan lagi maka hendaknya berusaha keras untuk berhenti dari dosa tersebut dan bertobat serta menyibukkan diri dengan yang manfaat.
Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:

فَاسْتَحْضِرْ بَعْضَ الْعُقُوبَاتِ الَّتِي رَتَّبَهَا اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى الذُّنُوبِ
Maka renungilah sebagian hukuman yang telah Allah berikan sebagai konsekuesi atas berbagai perbuatan dosa. 
Hukuman itu berkaitan dengan dosa.  Hukuman itu sesuai dengan kadar pengetahuan seseorang. Sebagaimana hukuman bagi para penuntut ilmu adalah dengan dilemahkan ilmunya karena hujjah itu telah tegak padanya.  (Kita berlindung kepada Allah dari hal demikian)

Beberapa hukuman tersebut adalah:

  1. أن يستمر على ذنوبه فختم الله على قلبه

1. Hukuman yang paling berat bagi pelaku dosa adalah dia terus menerus melakukan kemaksiatan dan hati itu sudah terbalik. Hatinya tidak memerintahkan kepada kema’rufan dan tidak mengingkari kemungkaran. 

 Sebagaimana hadits dari Hudzaifah bin al-Yaman radhiallahu’anhu – namun hukumnya tidak marfu’ kepada Nabi ﷺ

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " الْقُلُوبُ أَرْبَعَةٌ: قَلْبٌ أَجْرَدُ فِيهِ مِثْلُ السِّرَاجِ يَزْهَرُ، وَقَلْبٌ أَغْلَفُ مَرْبُوطٌ عَلَى غِلَافِهِ، وَقَلْبٌ مَنْكُوسٌ، وَقَلْبٌ مُصْفَحٌ، فَأَمَّا الْقَلْبُ الْأَجْرَدُ: فَقَلْبُ الْمُؤْمِنِ سِرَاجُهُ فِيهِ نُورُهُ، وَأَمَّا الْقَلْبُ الْأَغْلَفُ: فَقَلْبُ الْكَافِرِ، وَأَمَّا الْقَلْبُ الْمَنْكُوسُ: فَقَلْبُ الْمُنَافِقِ عَرَفَ، ثُمَّ أَنْكَرَ، وَأَمَّا الْقَلْبُ الْمُصْفَحُ: فَقَلْبٌ فِيهِ إِيمَانٌ وَنِفَاقٌ، فَمَثَلُ الْإِيمَانِ فِيهِ كَمَثَلِ الْبَقْلَةِ يَمُدُّهَا الْمَاءُ الطَّيِّبُ، وَمَثَلُ النِّفَاقِ فِيهِ كَمَثَلِ الْقُرْحَةِ يَمُدُّهَا الْقَيْحُ وَالدَّمُ، فَأَيُّ الْمَدَّتَيْنِ غَلَبَتْ عَلَى الْأُخْرَى غَلَبَتْ عَلَيْهِ

]Dari Abu Sa’id, dia berkata, Rasulullah ﷺ Hati itu ada empat macam: Hati yang bersih , ia seperti lentera yang bercahaya, hati yang tertutup ia terikat dengan tutupnya, hati yang sakit dan hati terbaik. Adapun hati yang bersih adalah hatinya orang beriman, ia seperti lentera yang bercahaya, sedangkan hati yang tertutup adalah hatinya orang kafir, hati yang sakit adalah hatinya orang munafik, ia mengetahui yang baik namun ia mengingkari dan hati yang terbalik (manqush) adalah hati yang di dalamnya ada iman dan nifak, contoh keimanan di situ adalah seperti tanah yang dapat memberikan air yang bersih sedangkan nifaq adalah seperti bisul, di dalamnya hanya nanah dan darah maka di antara keduanya yang paling kuat ia akan mengalahkan lainnya. (HR. Ahmad no. 11129, dhoif menurut Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ahaadits Dhoifah no. 5158).

2. التَّثْبِيطُ عَنِ الطَّاعَةِ، وَالْإِقْعَادُ عَنْهَا.
2. Penghambat dari amalan ketaatan dan tidak suka terhadap ketaatan kepada Allah.

Orang sebelum tidur malam lihat film maka apakah dia bisa bangun malam?

Syaikh Ziyad hafizhahullah mengatakan aku meragukannya. Allah telah mengharamkannya dengan sebab kemaksiatan dilakukan. 

يقول سفيان إني لأعصي المعصية فأحرم من قيام الليل ستة أشهر.

Sufyan bin Uyainah rahimahullah (wafat th. 196 H) mengatakan “Aku pernah melakukan kemaksiatan maka aku tercegah dari Qiyamul Lail selama 6 bulan.”

   3.   جَعْلُ الْقَلْبِ أَصَمَّ لَا يَسْمَعُ الْحَقَّ، أَبْكَمَ لَا يَنْطِقُ بِهِ، أَعْمَى لَا يَرَاهُ، فَتَصِيرُ النِّسْبَةُ بَيْنَ الْقَلْبِ وَبَيْنَ الْحَقِّ الَّذِي لَا يَنْفَعُهُ غَيْرُهُ، كَالنِّسْبَةِ بَيْنَ أُذُنِ الْأَصَمِّ وَالْأَصْوَاتِ، وَعَيْنِ الْأَعْمَى وَالْأَلْوَانِ، وَلِسَانِ الْأَخْرَسِ وَالْكَلَامِ

 3. Membuat hati tuli, tidak mendengar kebenaran, bisu tidak mengucapkannya, buta tidak melihat, menjadikan perbandingan antara hati dan kebenaran, yang tidak menguntungkan orang lain, seperti perbandingan antara telinga tuli dan suara, mata buta dan warna, dan lidah bisu dan bicara. 
Hal ini terjadi viral bukan hanya sedikit. 

 صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ

Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar). (QS. Al-Baqarah: 18)

وَالْمَقْصُودُ أَنَّ مِنْ عُقُوبَاتِ الْمَعَاصِي جَعْلَ الْقَلْبِ أَعْمَى أَصَمَّ أَبْكَمَ.

Dan maksudnya adalah hukuman kemaksiatan menjadikan hati buta, tuli dan bisu.

  4. الْخَسْفُ بِالْقَلْبِ كَمَا يُخْسَفُ بِالْمَكَانِ وَمَا فِيهِ، فَيُخْسَفُ بِهِ إِلَى أَسْفَلِ السَّافِلِينَ وَصَاحِبُهُ لَا يَشْعُرُ، وَعَلَامَةُ الْخَسْفِ بِهِ أَنَّهُ لَا يَزَالُ جَوَّالًا حَوْلَ السُّفْلِيَّاتِ وَالْقَاذُورَاتِ وَالرَّذَائِلِ، كَمَا أَنَّ الْقَلْبَ الَّذِي رَفَعَهُ اللَّهُ وَقَرَّبَهُ إِلَيْهِ لَا يَزَالُ جَوَّالًا حَوْلَ الْعَرْشِ.

4. Tenggelamnya hati, seperti halnya tenggelamnya sesuatu beserta segala isinya. Hati tersebut tenggelam sampai ke tingkat yang terendah, sementara pemiliknya tidak menyadari hal ini. Tanda-tanda tergelincirnya hati adalah ia senantiasa mengelilingi perkara-perkara yang rendah, kotor, dan hina, sementara hati yang ditinggikan oleh Allah dan di dekatkan kepada-Nya senantiasa berada di sekitar ‘Arsy.

   5. الْبُعْدُ عَنِ الْبِرِّ وَالْخَيْرِ وَمَعَالِي الْأُمُورِ وَالْأَعْمَالِ وَالْأَقْوَالِ وَالْأَخْلَاقِ.
قَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: إِنَّ هَذِهِ الْقُلُوبَ جَوَّالَةٌ، فَمِنْهَا مَا يَجُولُ حَوْلَ الْعَرْشِ، وَمِنْهَا مَا يَجُولُ حَوْلَ الْحُشِّ.

5. Jauh dari kebajikan, kebaikan, amal, perkataan dan akhlaq yang mulia. Sebagian salaf berkata, “Sesungguhnya hati itu berkeliling. Di antaranya ada yang berkisar di seputar ‘Arsy, sedangkan sebagian lainnya berkisar di seputar husysy (tempat buang hajat).”

   6. مَسْخُ الْقَلْبِ، فَيُمْسَخُ كَمَا تُمْسَخُ الصُّورَةُ، فَيَصِيرُ الْقَلْبُ عَلَى قَلْبِ الْحَيَوَانِ الَّذِي شَابَهَهُ فِي أَخْلَاقِهِ وَأَعْمَالِهِ وَطَبِيعَتِهِ، فَمِنَ الْقُلُوبِ مَا يُمْسَخُ عَلَى قَلْبِ خِنْزِيرٍ لِشِدَّةِ شَبَهِ صَاحِبِهِ بِهِ، وَمِنْهَا مَا يُمْسَخُ عَلَى قَلْبِ كَلْبٍ أَوْ حِمَارٍ أَوْ حَيَّةٍ أَوْ عَقْرَبٍ وَغَيْرِ ذَلِكَ، وَهَذَا تَأْوِيلُ سُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: {وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ} [سُورَةُ الْأَنْعَامِ: 38] .
قَالَ: مِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ عَلَى أَخْلَاقِ السِّبَاعِ الْعَادِيَةِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ عَلَى أَخْلَاقِ
الْكِلَابِ وَأَخْلَاقِ الْخَنَازِيرِ وَأَخْلَاقِ الْحَمِيرِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَتَطَوَّسُ فِي ثِيَابِهِ كَمَا يَتَطَوَّسُ الطَّاوُوسُ فِي رِيشِهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ بَلِيدًا كَالْحِمَارِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يُؤْثِرُ عَلَى نَفْسِهِ كَالدِّيكِ، وَمِنْهُمْ مِنْ يَأْلَفُ وَيُؤْلَفُ كَالْحَمَامِ، وَمِنْهُمُ الْحَقُودُ كَالْجَمَلِ، وَمِنْهُمُ الَّذِي هُوَ خَيْرٌ كُلُّهُ كَالْغَنَمِ، وَمِنْهُمْ أَشْبَاهُ الثَّعَالِبِ الَّتِي تَرُوغُ كَرَوَغَانِهَا، وَقَدْ شَبَّهَ اللَّهُ تَعَالَى أَهْلَ الْجَحِيمِ وَالْغَيِّ بِالْحُمُرِ تَارَةً، وَبِالْكَلْبِ تَارَةً، وَبِالْأَنْعَامِ تَارَةً، وَتَقْوَى هَذِهِ الْمُشَابَهَةُ بَاطِنًا حَتَّى تَظْهَرَ فِي الصُّورَةِ الظَّاهِرَةِ ظُهُورًا خَفِيًّا، يَرَاهُ الْمُتَفَرِّسُونَ، وَتَظْهَرُ فِي الْأَعْمَالِ ظُهُورًا يَرَاهُ كُلُّ أَحَدٍ، وَلَا يَزَالُ يَقْوَى حَتَّى تُسْتَشْنَعَ الصُّورَةُ، فَتَنْقَلِبُ لَهُ الصُّورَةُ بِإِذْنِ اللَّهِ، وَهُوَ الْمَسْخُ التَّامُّ، فَيَقْلِبُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الصُّورَةَ الظَّاهِرَةَ عَلَى صُورَةِ ذَلِكَ الْحَيَوَانِ، كَمَا فَعَلَ بِالْيَهُودِ وَأَشْبَاهِهِمْ، وَيَفْعَلُ بِقَوْمٍ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَمْسَخُهُمْ قِرَدَةً وَخَنَازِيرَ.

6. Perubahan hati, seperti halnya perubahan bentuk tubuh. Hati tersebut berubah menjadi hati hewan sehingga mirip dengan nya dari segi perilaku dan tabiat. Sebagian hati diubah menjadi hati babi karena pemiliknya memang sangat mirip hewan ini Sebagian lagi diubah menjadi hati anjing, keledai, ular, kalajengking dan seternusnya. Inilah penafsiran Sufyan bin ‘Uyainah terhadap firman Allah:

وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُم ۚ 

Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kalian. (QS. Al-An’aam: 38)

Sufyan bin Uyainah rahimahullah berkata, “Ada diantara mereka yang memiliki tabiat seperti binatang buas yang suka memangsa.

 Sebagian lain seperti tabiat anjing, babi, dan keledai. Sebagian lagi bertingkah seperti burung merak dari segi pakaian, sebagaimana perilaku burung merak terhadap bulu-bulunya, ada yang bodoh seperti keledai, sebagian lagi bersifat egois seperti ayam jago, ada yang jinak seperti merpati, sebagian lagi pendengki seperti unta, ada yang seluruh tubuhnya baik seperti kambing, sebagian lagi mirip dengan serigala dan sebagian lagi mirip musang sebab dia menipu seperti tipuan musang.” 
Ini semua adalah karena sebab dari maksiat.

    .7 مَكْرُ اللَّهِ بِالْمَاكِرِ، وَمُخَادَعَتُهُ لِلْمُخَادِعِ، وَاسْتِهْزَاؤُهُ بِالْمُسْتَهْزِئِ، وَإِزَاغَتُهُ لِلْقَلْبِ الزَّائِغِ عَنِ الْحَقِّ

7. Makar Allah terhadap orang berbuat makar, tipu daya-Nya terhadap orang yang suka menipu, penghinaan-Nya kepada orang yang suka menghina serta penyesatan-Nya terhadap orang yang condong melenceng tidak mau menerima kebenaran.
Allah memberikan hukuman kepadamu berdasarkan jenis kemaksiatanmu

فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. (QS. As-Shof: 5)

Syaikh Ziyad al-‘Abbad hafizhahullah mengatakan, “Tidaklah aku menuntut dirimu menjadi seperti nabi, atau orang yang benar namun aku meminta kepadamu untuk menjadi orang yang mukmin sebagaimana perkataan Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu:

إِنَّ المُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ 

“Sesungguhnya seorang mukmin memandang dosa-dosanya seakan-akan ia sedang duduk di bawah gunung dan ia takut gunung tersebut jatuh menimpanya.” (al-Bukhari no. 6308)" 

Begitulah selayaknya engkau menjadi seorang mukmin yang takut kepada kemaksiyatan.”

Semoga Allah menjauhkan kita dari berbagai fitnah dan melindungi kita dari kemaksiatan.

Batu-Malang, 24 Sy awwal 1440 H/27-06-2019

Semoga bermanfaat,

📝 Ustadz Zaki Rakhmawan Hafidzahullah

Daurah Syar'iyyah fi Masail Al Aqdiyyah wal Manhajiyyah ke 20.

gambar: pixabay.com