Adab Mencatat Ilmu: Selektif, Bukan Menulis Segalanya

 

Adab Mencatat Ilmu: Selektif, Bukan Menulis Segalanya

Fawaid Daily — Ustadz Zaki Rakhmawan hafizhahullah Disarikan dari kajian Syaikh Dr. Muhammad Hisham At-Tahiri

Salah satu tantangan terbesar bagi para penuntut ilmu ketika mengikuti kajian atau daurah yang padat (intensif) adalah bagaimana cara mencatat informasi dengan tepat. Banyak yang keliru menyangka bahwa semakin banyak catatan, semakin baik pemahaman yang didapat. Padahal, dalam sebuah kajian intensif, metode mencatat yang dianjurkan justru bersifat spesial dan selektif.

Jangan Mencatat Segala Hal

Poin utama yang disampaikan adalah larangan untuk mencatat segala sesuatu tanpa seleksi. Seorang penuntut ilmu semestinya hanya mencatat:

  1. Hal-hal yang baru baginya — sesuatu yang belum pernah ia ketahui atau pahami sebelumnya.
  2. Hal-hal yang memberi manfaat penting — poin yang benar-benar krusial dan berdampak bagi pemahamannya.

Tujuan dari metode selektif ini adalah agar pikiran tetap jernih dan pemahaman tetap tajam selama proses belajar berlangsung. Jika seseorang sibuk menulis setiap kata yang diucapkan pembicara, maka fokusnya akan teralihkan dari memahami substansi ke sekadar aktivitas menulis semata. Akibatnya, ia hadir secara fisik namun tidak benar-benar menyerap ilmu yang disampaikan.

Oleh karena itu, penuntut ilmu dituntut untuk benar-benar memperhatikan istilah-istilah ilmiah yang disampaikan oleh pemateri, karena di situlah biasanya terkandung inti dari pembahasan.

Kaidah Emas Ulama Salaf

Dalam kajian ini disampaikan pula sebuah kaidah masyhur yang sangat dikenal di kalangan ulama salaf dalam adab menuntut ilmu:

"Barangsiapa menyia-nyiakan pokok (perkara yang mendasar), ia terhalang mencapai tujuan."

Kaidah ini, sebagaimana disebutkan, di antaranya dinukil oleh Imam Al-Khathib Al-Baghdadi. Maknanya sangat dalam: seseorang yang mengabaikan hal-hal yang bersifat pokok dan mendasar dalam belajar — termasuk dalam hal ini adalah esensi memahami, bukan sekadar mencatat — pada akhirnya akan terhalang untuk mencapai tujuan sejatinya dalam menuntut ilmu, yaitu pemahaman dan pengamalan.

Pelajaran bagi Penuntut Ilmu

Dari fawaid ini, dapat diambil beberapa pelajaran penting:

  • Kualitas lebih utama daripada kuantitas dalam mencatat. Catatan yang sedikit namun tepat sasaran lebih bermanfaat daripada catatan yang penuh namun tidak dipahami maknanya.
  • Fokus utama tetap pada pemahaman, bukan pada seberapa banyak halaman yang berhasil ditulis.
  • Istilah ilmiah adalah kunci, karena seringkali di balik satu istilah tersimpan penjelasan yang luas dan mendalam.
  • Jangan menyia-nyiakan perkara pokok, karena hal itu akan menghalangi seseorang dari tujuan akhirnya dalam menuntut ilmu.

Fawaid ini disampaikan dalam rangkaian Daurah Syar'iyyah ke-9 yang diselenggarakan di Pondok Imam Al-Bukhari, Solo — Sidorejo, Selokaton, Kec. Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar.