HUSNUDZAN KEPADA ALLAH
( Kajian siang 27 Ramadhan 1447H Jamaah Daurah Travel).
Ibadah di dalam agama islam secara umum terbagai menjadi 3 macam:
- Ibadah hati
- Ibadah anggota badan
- Ibadah harta
Ditinjau dari jenisnya maka Ibadah hati adalah ibadah yang paling tinggi kedudukannya.
Bahkan disebutkan oleh para ulama tentang keutamaan sahabat mulia Abu Bakr
مَا سَبَقَكُمْ أَبُو بَكْرٍ بِكَثْرَةِ صَلَاةٍ وَلَا صِيَامٍ، وَلَكِنْ بِشَيْءٍ وَقَرَ فِي قَلْبِهِ
“Abu Bakar tidak mengungguli kalian dengan banyaknya shalat dan puasa, tetapi dengan sesuatu (keyakinan) yang menetap di dalam hatinya.”
Di antara ibadah hati yang sangat agung dalam Islam adalah husnuzhan kepada Allah (berprasangka baik kepada-Nya).
Seorang mukmin selalu meyakini bahwa Allah Maha Pengasih, Maha Bijaksana, dan tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang beriman.
Sebaliknya, buruk sangka kepada Allah adalah sifat orang munafik. Allah berfirman:
الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ ۚ عَلَيْهِمْ دَائِرَةُ السَّوْءِ
“Orang-orang yang berprasangka buruk kepada Allah. Mereka akan mendapatkan giliran kebinasaan.”
(QS. Al-Fath: 6)
Doa
Di antara tempat yang sangat penting untuk menghadirkan husnuzhan adalah ketika berdoa.
Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam bersabda:
ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ
“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kalian yakin akan dikabulkan.”
(HR. Tirmidzi no. 3479, dinilai hasan)
Terpesankan dari hadist ini bahwa seorang hamba hendaknya berdoa dengan penuh keyakinan, dan tidak beranggapan bahwa permintaannya terlalu besar bagi Allah.
Dalam hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda bahwa Allah berfirman:
يَا عِبَادِي، لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي، فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ، مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلَّا كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ
“Wahai hambaKu, seandainya orang pertama dan terakhir di antara kalian, manusia dan jin, semuanya berdiri di satu tempat lalu mereka meminta kepadaKu, kemudian Aku berikan kepada masing-masing apa yang ia minta, maka itu tidak mengurangi apa yang ada padaKu kecuali seperti jarum yang dicelupkan ke laut.” (HR. Muslim no. 2577)
Artinya, Allah tidak akan pernah kekurangan, dan Dia tidak mungkin menyia-nyiakan hamba-Nya.
Saat ini kita berada di bulan Ramadhan kita dapati di sela sela rangkaian ayat puasa dalam Surat Al-Baqarah ayat 183–187.
Di tengah-tengah ayat puasa tersebut Allah menyebutkan tentang doa:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186).
Ayat ini menunjukkan kepastian bahwa Allah mendengar dan mengabulkan doa hambaNya.
Adapun dikabulkan sekarang, ditunda, atau diganti dengan yang lebih baik, itu adalah bagian dari hikmah Allah.
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو اللَّهَ بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ يُعَجِّلَ لَهُ دَعْوَتَهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا
“Tidaklah seorang Muslim berdoa kepada Allah dengan doa yang tidak mengandung dosa dan tidak memutus silaturahim, kecuali Allah akan memberinya salah satu dari tiga hal:
1. Allah segera mengabulkan doanya,
2. Allah menyimpannya sebagai pahala di akhirat,
3. atau Allah menghindarkan darinya keburukan yang semisalnya. ( senilai dengan doa yang ia panjatkan) ”
Ketika para sahabat mendengar hal ini mereka berkata:
إِذًا نُكْثِرُ
“Kalau begitu kami akan memperbanyak doa.”
Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam menjawab:
اللَّهُ أَكْثَرُ
“Allah lebih banyak lagi (karunia-Nya).”
(HR. Ahmad, dinilai shohih oleh Al Albani)
Berikut di antara momen-momen Penting kita hendaknya membulatkan tekat berusaha untuk berhusnuzhan kepada Allah :
1. Ketika menghadapi kematian
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:
لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللَّهِ
“Janganlah salah seorang di antara kalian meninggal dunia kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah.”
(HR. Muslim )
Hadits ini diriwayatkan oleh sahabat Jabir bin Abdillah tiga hari sebelum beliau wafat.
Karena kita tidak tahu kapan ajal datang, maka secara otomatis sepanjang hidup kita hendaknya terus menjaga husnuzhan kepada Allah.
2. Ketika terjatuh dalam dosa
Ayat yang disebut oleh banyak ulama sebagai ayat paling memberi harapan dalam Al-Qur’an adalah:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ
إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا
“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni seluruh dosa.”
(QS. Az-Zumar: 53)
3. Ketika berdoa
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:
ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ
“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak menerima doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi 3479)
Maka hayatilah doa yang kita panjatkan.
Doa yang sedikit namun dengan hati yang hadir, seringkali lebih baik daripada doa yang panjang tetapi hati lalai.
Semisal doa pendek tapi luarbiasa adalah doa sapu jagat.
4. Ketika berada dalam kesulitan dan bahaya atau hal hal darurat yang mendesak.
Ketika Nabi Musa Bani Israil terdesak oleh pengejaran Fir’aun dan bala tentaranya hingga terpojok di tepi laut, mereka ( Bani israil) berkata:
إِنَّا لَمُدْرَكُونَ
“Kita pasti akan tertangkap.”
(QS. Asy-Syu’ara: 61)
Para Ulama tafsir menyebutkan bahwa perkataan yang bersumber dari rasa suudzon kepada Allah.
Namun Nabi Musa menjawab dengan penuh keyakinan dan husnudzan kepada Allah:
كَلَّا ۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ
“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.”
(QS. Asy-Syu’ara: 62).
Demikian pula kisah Nabi Shallallahu alaihi wasallam, tatkala bersama Abu Bakr ketika berada di dalam gua saat pengejaran orang orang Quraiys
Abu Bakar berkata:
“Wahai Rasulullah, seandainya mereka melihat ke bawah kaki mereka, niscaya mereka akan melihat kita.”
Rasulullah Shallallahu alaihi salam menjawab:
مَا ظَنُّكَ بِاثْنَيْنِ اللَّهُ ثَالِثُهُمَا
“Apa sangkaanmu terhadap dua orang yang Allah adalah yang ketiga bersama mereka?”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Allah mengabadikan peristiwa ini dalam Al-Qur’an:
إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
“Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS. At-Taubah: 40)
Juga kisah Nabi Zakariya
Ketika Nabi Zakariya sudah sangat tua dan istrinya mandul, beliau tetap berdoa dengan penuh harapan kepada Allah.
Beliau berkata:
وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا
“Dan aku tidak pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu wahai Rabbku.” (QS. Maryam: 4)
Dan Allah pun mengaruniakan kepada beliau seorang anak yang mulia, yaitu Nabi Yahya.
Penutup
Sesungguhnya hati manusia berada di tangan Allah. Kita tidak mampu sepenuhnya menguasainya.
Namun ada satu kunci besar untuk memperbaiki hati agar terus bisa berhusnudzan kepada Allah, yaitu kita selalu memperbaiki kualitas iman.
Semakin kuat iman seseorang, semakin kuat pula husnuzhannya kepada Allah.
Semoga Allah menjadikan hati kita penuh dengan husnuzhan kepada-Nya...
Ringkasan Kajian:
Ust. Rizal Yuliar
Ditulis di Masjid al-Haram
27 Ramadhan 1447 H
16 Maret 2026
Wallahu ta’ala a’lam...
di tulis oleh Ustadz Ichsan Abu Mikyas